Senin, 06 Juni 2011

resum KWN

Pendidikan Kearganegaraan Berbasis Pada Pendidikan Karakter
 
DIKWAR TELAH DIPAHAMI PESERTA DIDIK SECARA KOGNITIF, NAMUN PERLU PENEKANAN KEARAH EFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK.
Tujuan DIKWAR :             
1.       Miliki motivasi kuasai materi Dikwar
2.       Kaitkan & Implementasikan dalam peran – kedudukan – kepentingan sebagai individu, anggota masyarakat dan warga negara terdidik.
3.       Memiliki tekad dan kesediaan mewujudkan kaidah-kaidah nilai berbangsa dan bernegara.

UPAYA PERBAIKAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
1.       Proses DIK (Pembelajaran & Evaluasi) yang pada aspek kognitip padukan dgn aspek Afektip & aspek Psikomotorik.
2.       Integrasikan nilai Agama pada setiap mata pelajaran (meski materi ajarannya dapat dibedakan / dipisahkan).



VISI, MISI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Berdasarkan Keputusan Dirjen Dikti No. 43/Dikti/Kep./2006, terdapat visi dan misi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai berikut :
1.             Visi Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi adalah merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi, guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia seutuhnya.
2.             Misi Pendidikan Kewarganegaraan  di perguruan tinggi adalah untuk membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya, agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila, rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan rasa tanggung jawab dan bermoral.
Selain visi dan misi tersebut di atas, Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai tujuan umum dan khusus, yaitu :
a.        Tujuan umum, untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada mahasiswa mengenai hubungan antar warga Negara dengan Negara serta pendidikan pendahuluan bela Negara agar menjadi warga Negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan Negara.
b.        Tujuan khusus
1.         Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan akan hak dan kewajiban secara santun, jujur, demokratis.
2.         Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagi masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3.         Agar mahasiswa memiliki sifat dan perilaku yang sesuai dengan nilai perjuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.
Civic education diartikan sebagai pendidikan Kewarganegaraan dan pendidikan Kewarganegaraan. Landasan pendidikan Kewarganegaraan meliputi landasan filosofis, landasan teoritis, landasan historis, landasan sosiologi, dan landasan yuridis. Berbicara pembentukan kepribadian tidak lepas dengan bagaimana kita membentuk karakter SDM. Pembentukan karakter SDM menjadi vital dan tidak ada lagi pilihan lagi untuk mewujudkan Indonesia baru, yaitu Indonesia yang dapat mengadapi tantangan regional dan Global (Muchtar dalam Sairin, 2001:211).
WAWASAN KEBANGSAAN

“Kebebasan berekspresi” yang merendahkan martabat manusia -dan kini justru dibela sebagian aktifis perempuan, budayawan, praktisi hukum dan yang lainnya yang notabene adalah cemdekiawan yang turut menentukan sejarah perjalanan bangsa adalah gejala pemimpin yang kehilangan wawasan kebangsaannya.
Berbagai pemahaman mengenai wawasan kebangsaan, pada hakikatnya adalah sama, yaitu tentang kesamaan cara pandang ke dalam (inward looking) dan cara pandang keluar (outward looking) sebuah bangsa terhadap berbagai permasalahannya di bidang masing – masing. Berbagai teori mengenai wawasan kebangsaan pasti selalu berhubungan dengan kesamaan ras, etnis, agama, kekayaan alam, wilayah, tekad bersatu, dan ideologi yang dihayatinya.
wawasan kebangsaan indonesia yang berasal dari sumpah pemuda 1928 harus selalu didasari oleh rasa kebersamaan, tidak oleh kekerasan dan paksaan. Selanjutnya wawasan itu di harapkan bisa menyemaikan nilai-nilai luhur proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam bentuk watak dan jati diri bangsa Indionesia dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.
Yang dimaksud dengan ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis dangsa indonesia, yaitu keuletannya, ketangguhannya, dan kemampuannya dalam mengembangkan kekuatan untuk menghadapi dan mengatasi segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang datang dari dalm maupn luar, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat membahayakan integras, identitas, kelangsungan hidup, maupun perjuangan bangsa itu dalam mengejar tujuan nasionalnya.

Pembentukan karakter bangsa harus bermula dari indinvidu anggota-anggota msyarakat bangsa,karena masyarakat adalah kumpulan individu yang hidup di suatu tempat dengan nilai-nilai yang merekat mereka. Membentuk karakter individu bermula dari pemahaman tentang diri sendiri sebagai manusia,potensi positif dan negatifnya serta tujuan kehadirannyadi pentas bumi ini.
Untuk mewujudkan karakter yang dikehendaki diperlukan lingkungan yang kondusif, pelatihan dan pembiasaan, persepsi terhadap pengalaman hidup dan lain-lain. Disisi lain karakter yang baik harus terus diasah dan diasuh, karena ia adlah proses pendakian tanpa akhir.
Membangun karakter dan watak bangsa melaui pendidikan mutlak di perlukan

Dalam pendidikan / mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertiannya yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika dan juga prilaku dalam kehidupan sehari – hari.
Makna pendidikan banyak kalangan memberikan makna bahwa pendidikan sangatlah beragam, bahkan sesuai dengan pandangannya masing – masing. Azyumardi Azra dalam buku “ Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi “, memebrikan pengertian tentang pendidikan , merupakan suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan juga untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien.
Bangsa Indonesia saat ini digambarkan sebagai bangsa yang mengalami penurunan kualitas bangsa. Mulai dari pelajar yang tidak punya sopan santun, suka tawuran, suka ngebut – ngebutan, dan lain – lain. Munculnya penurunan kualitas dari bangsa dikarenakan lunturnya nilai – nilai karakter bangsa. Karakter merupakan nilai – nilai prilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan juga bangsa, yang terwujud dalam pikiran, sikap, prilaku, perasaan, dan perkataan berdasarkan norma – norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat.
Pembangunan karakter bangsa adalah upaya sadar dalam memperbaiki dan  meningkatkan seluruh prilaku yang mencakup adat istiadat, nilai – nilai, potensi, kemampuan, bakat, dan pikiran Bangsa Indonesia. Untuk membangun karakter bangsa, haruslah dimulai dari lingkungan yang terkecil.
Pembentukan karakter merrupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasioanal adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Sifat – sifat pendidikan


1.                  Rasional
2.                  Fitrah
3.                  Bashiriah
4.                  Pembelajaran berbasis Fitrah


Keterkaitan antara pola pikir dengan Ilmu Filsafat ( Ontologi, Epsitomologi, Aksiologi )

Lima pola pikir untuk menuju masa depan yang lebih sempurna, terdiri dari :
A.      Discliplied mind ( pikiran terdisiplian )
Suatu pemikiran kognisi yang mencirikan disiplin ilmu, keterampilan, atau profesi tertentu. Keterkaitan dengan 3 cabang ilmu filsafat : meningkatkan menusia tenteng sifat dasar berbagai benda, ilmu yang di miliki manusia berhubungan satu sama lain, dan adanya pemikiran yang terdisiplin maka ilmu – ilmu itu akan mampu diaplikasikan.
B.      Synthesizing mind ( pikiran mensintesa )
Pola pikir yang diperoleh melalui sintesis, memadukan beragam disiplin ilmu pengetahuan. Keterkaitan dengan 3 cabang ilmu filsafat : suatu hubungan di mana seseorang mencari ilmu dengan suatu alasan dengan menggunakan pemikiran mensintesa, hubungan yang sangat erat kaitannya, dan menganalisis harus disesuaikan dengan nilai etika norma dan agama.
C.      Creating mind ( pemikiranmencipta )
Pola pikir yang merupakan suatu pikiran mencipta, untuk senantiasa merekahkan ide – ide baru. Keterkaitan dengan 3 cabang ilmu filsafat : pemikiran manusia berhubungan dengan suatu hal yang bersifat konkrit, karakter pengetahuan yang menentukan baik buruknya sesuatu hal, yang d miliki manusia ada yang berhubungan dengan nilai – nilai atau norma – norma yang berlaku.
D.     Respecthul mind ( pikiran merespek )
Pola pikir untuk menyambut perbedaan pandangan. Keterkaitan dengan 3 cabang ilmu filsafat : tindakan nyata dalam menghormati perbedaan, suatu tindakan harus didaasari dengan ilmu pengetahuan, dan suatu perbedaan dapat menjadikan manusia mencapai tujuan hidupnya.
E.      Etichal mind ( pikiran etis )
Pola pikir yang membujuk kita untuk berikhtiar membangun kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan personal dan professional. Keterkaitan dengan 3 cabang ilmu filsafat : keseimbangan antara harapan dengan hasilnya, penerapan ilmu sesuai dengan aturan dan norma, dan penerapan ilmu di dalammasyarakat.



Pengambangan nilai – nilai kebangsaan sebagai Implementasi Nation and Character Building

1.      Konteks Aktual
Proklamasi kemerdekaan Indonesia bertujuan untuk mengubah system feodalistik dan system kolonialis menjadi system modern dan system demokrasi. Dalam konteks Nation and Character Building, dimaksudkan “nation” maupun “ chacarcter” yang d kehendaki sebagai bangsa merdeka belum mencapai standart yang dibutuhkan. Gagasan awalnya :
a)      Kemandirian, terwujud dalam percaya akan kemampuan manusia.
b)      Demokrasi, setiap anggota ikut serta dalam proses politik dan juga pengambilan keputusan.
c)      Persatuan Nasional, diwujudkan dengan kebutuhan untuk melakukan rekonsiliasi nasional.
d)      Martabat Internasional.

2.      Wawasan Kebangsaan sebagai bagian dari Nation and Character Building
Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosia.  Wawasan kebangsaan merupakan jiwa, cita – cita, atau falsafah hidup yang tidak lahir dengan sendirinya. Ia sesungguhnya merupakan hasil konstruksi dari realitas sosial dan politik ( sociallyand politically constructed ).
Mengadopsi pemikiran Talcott Parsons mengenai teori system, wawasan kebangsaan dapat dipandang sebagai suatu filsafah hidup yang berada pada tataran sub-system  budaya. Dalam tataran ini wawasan kebangsaan dipandang sebagai “ way of live” atau kerangka / peta pengetahuan yang mendorong terwujudnya tingkah laku dan digunakan sebagai acuan bagi seseorang untuk menghadapi dan menginterpretasi lingkungannya.

Sub-sistem politik merupakan persyaratan atau prakondisi bagi terciptanya atau bekerjanya sub-sistem ekonomi, pada sub-sistem ekonomi. Pada sub-sistem politik, pencapaian tujuan dilaksanakan melaui demokrasi yang mengedepankan keseimbangan hak dan kewajiban warga Negara, menghargai perbedaan dan sebagainya. Sub-sistem politik memberikan dampak secara langsung bagaimana sub-sistem ekonomi berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar